RUMUS CINTA

Cinta itu layaknya “adverb of time”
Kadang dipandang sebelah mata, namun sangat berarti.

Tapi cinta kita bukan “dangling sentence”
Keliru dalam pemahaman karena “dangling modifier”
Walau bergandengan, tapi tidak berarti apa-apa serta butuh waktu lama untuk dapat dimengerti.

Bagaikan “modal auxiliaries”
Semuanya berarti “harus”
Ibarat kita.. harus bersatu

Kita bagaikan minimal sebuah kalimat “s+v” yang saling melengkapi
Merasa hilang jika salah satunya tiada

Kita bukan “simple past tense”
Yang hidup dimasa lalu

Tapi kita bagaikan “past future perfect”
Yang tidak akan mengulang masa lalu

Kita juga bagaikan “present continuous dan future perfect continuous tense”
Untuk saat ini.. dan masa depan.

Memang.. hidup bukan hanya sekedar rumus,
Tapi tanpa itu, kita kehilangan arah dan tak tau cara melangkah.

———————————————————–
Hary Elmo,
Cikalong Wetan, Jan 18 2015

Advertisements

BECAUSE OF YOU

I have never felt like this before
That’s I knew
Because of you
I have learned to understanding
I have learned to feeling
Yourself

Because of you
I have changed one’s mind
I have found out my new soul
At last

Because of you
I have found out my way
I do not get lost anymore
And will not get lost anymore

Because of you
I will not come back
For ever
Until disappear
In quietness.

RAY dan TEMAN IMAJINASINYA – Hari Yang Tak Menyenangkan

Sejak pertemuannya dengan Dev, Ray menjadi lebih mudah bahkan sudah terbiasa melihat makhluk-makhluk halus yang sering tiba-tiba muncul dihadapannya.
Ia pernah dicap mengidap penyakit jiwa oleh teman-temannya karena sering kedapatan ngobrol sendiri. Ini yang membuat ia tidak nyaman selain kedatangan makhluk-makhluk itu yang selalu muncul secara tiba-tiba.

Suatu hari, ia sedang berajalan di koridor sekolah. Tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh sekitar satu meter dari tempat ia berdiri dan menggelinding mendekatinya.. ternyata itu adalah sosok kepala pocong yang wajahnya hancur berlumuran darah. Ini benar-benar membuat tidak nyaman. Namun beberapa menit setelah sosok kepala itu menghilang, ia mulai bisa tenang kembali dan berlaga seperti tidak terjadi apa-apa dihadapan teman-temannya.

Saat ia masuk kelas, ternyata Dev sedang duduk di bangku tempat ia duduk. “Dev, ngapain kamu disini?” Ia berbicara sedikit keras sehingga membuat teman-temannya menoleh kearahnya. Ada salah satu temannya berteriak “Gila lu ya, ngomong sendiri?” Dan dilanjutkan dengan sorakan anak-anak sekelas “huuuuuuuuu…”. Namun Ray hanya tertunduk tanpa mengatakan apapun. Tiba-tiba Dev menghilang dan Ray pun duduk di bangkunya, bangku ketiga dari depan pada barisan pertama.

Beberapa saat kemudian Mr.Darman masuk ke kelas. Kami menyebutnya Mr. karena ia adalah salah satu guru bahasa Inggis. Aktifitas belajarpun berjalan dengan lancar sampai waktunya kami pulang.

TEMAN IMAJINASI – Pertemuan Pertama

Kisah ini berawal sejak saya masuk SMA, sekitar tujuh tahun yang lalu. Karena jarak antara rumah dan sekolah itu berjauhan, akhirnya saya memutuskan untuk tinggal di sebuah Kost. Selain untuk belajar mandiri, juga untuk menghemat ongkos pulang-pergi yang cukup mahal waktu itu.

Dari awal saya masuk, saya memutuskan untuk mengikuti salah satu organisasi yang menarik minat dan perhatian saya yaitu PASKIBRA.

Singkat cerita, organisasi-organisasi di Sekolah saya mau mengadakan pelatihan gabungan sekaligus pelantikan anak-anak baru ditiap-tiap organisasi tersebut yang dilaksanakan dua hari satu malam. Semangat saya begitu besar waktu itu karena organisasi itu memang menarik minat saya.

Saat siang hari, semuanya berjalan secara normal dan tidak ada hal apapun yang mengganggu berjalannya acara LATGAB tersebut. Sekitar jam 11.30 malam, saya baru sadar kalau saya belum shalat Isya. Akhirnya saya bergegas untuk pergi ke sebuah Mushola Sekolah yang letaknya paling ujung bawah diantara bangunan-bangunan yang lain. Ketika sampai disitu, perasaan saya mulai tidak enak, saya merasa saat itu begitu hening dari sebelumnya seperti hanya saya sendiri yang ada di Sekolah. Tiba-tiba bulu kuduk-ku sedikit merinding, namun saya tidak menghiraukan perasaan itu. Saya bergegas mengambil wudhu disamping Mushola lantas masuk dan melaksanakan shalat. Setelah selesai shalat, bulu kuduk-ku semakin merinding.. seperti ada yang berlari dan meniup leher belakangku, entah siapa. Setelah saya memberanikan menoleh kebelakang, ternyata tidak ada seorangpun disana.
“Ah sudahlah, mungkin itu cuma perasaanku saja” pikirku.
Namun, perasaan sepi itu semakin mencekam, angin berhembus kencang, dinginnya sampai menembus tulangku. Saya berniat untuk kembali ke kelas menemui teman-temanku yang semuanya berada disana. Setelah memakai sepatu, saya berlari menuju ruangan kelas, namun baru saja dua langkah saya berlari.. tiba-tiba saya menabrak seorang anak yang memakai baju serba putih dan tidak pernah saya lihat sebelumnya. Sepintas tidak ada yang aneh dari anak itu.. Dia tersenyum dan secara spontan saya memalingkan muka. Begitu saya berniat melihat dia lagi, tiba-tiba dia sudah tidak ada. Itu benar-benar membuat saya semakin merinding. Saya tidak menceritakan kejadian itu kepada siapapun karena takut malah membuat heboh.

Pelantikan itu selesai sekitar jam 4 pagi. Setelah membersihkan diri, semua anak- anak bergegas untuk shalat subuh. Seperti biasa, saya pergi ke Mushola paling terakhir karena saya tau pasti antrian untuk mengambil wudhu pasti panjang mengingat hanya ada dua water-tap disitu.

Saat saya melewati ruangan belakang kelas XI-IPA, tiba-tiba dari kejauhan saya melihat sosok yang tadi malam saya lihat. Dia tersenyum.. saat itu saya memberanikan diri mendekatinya dengan perasaan was-was. Dia menyebut namanya, “Dev”. Kami berbincang-bincang dan tiba-tiba saya terkejut karena ada yang menepuk pundak saya sambil berteriak “Hey! Ngomong sama siapa kamu?” Ternyata itu teman saya.. “Oy, nih saya ngobrol sama si Dev” saya menjawab. | Dev? Mana? Gak ada orang disini.. cuma ada kita berdua.. | Hahh? Kamu gak liat !? | Ah ngarang! Udah saya duluan, mau shalat. Saya hanya bisa bengong disitu bahkan sempat tidak bisa berpikir dan berkata apa-apa.
Hey Dev, kenapa kamu tidak bisa dilihat oleh orang lain? Namun dia hanya tersenyum. Tiba-tiba dia menceritakan siapa dia sebenarnya. Ternyata kami berbeda alam.. Dia adalah penunggu tempat itu.. Saya semakin terkejut dan ngomongpun terbata-bata. Ja..ja..jadi ka..kaa.. | namun dia memotong, “Kamu jangan takut, aku tidak akan ganggu kamu, aku hanya ingin berteman denganmu” sejak saat itu kamipun berteman. Namun yang membuat saya kesal, dia selalu muncul secara tiba-tiba dan itu sangat menganggu mengagetkan. Bahkan siang haripun dia selalu muncul untuk mengajak saya berbincang-bincang. Itulah sebabnya saya tidak terlalu dekat dengan teman-teman sekelas, saya selalu menyendiri. Lebih asyik dengan teman baru saya, Dev. Entah itu nyata atau tidak.. Sayapun masih belum mengerti..